• All
  • KHILAFAH
  • SYARIAH
  • JIHAD
  • FUTUHAT
TENTANG KHILAFAH

Archives

gravatar

PERANG AHZAB

Berbagai peperangan dan sikap tegas Rasulullah saw setelah perang Uhud, memiliki pengaruh sangat besar dalam menyebarluaskan kewibawaan  kaum Muslim, memperkokoh Daulah  Islam,
memperluas pengaruh kaum Muslim, mengagungkan kekuasaan mereka, dan menggentarkan  kawasan  jazirah  Arab.  Apabila  bangsa Arab mendengar  nama  Rasul  saw  hendak menyerang mereka  atau menggertaknya, maka serta merta mereka tunggang langgang melarikan diri, sebagaimana yang dialami pada Bani Ghathfan dan pada peristiwa Daumah al-Jandal.

Kafir Quraisy  sangat  takut untuk menghadapi  kaum Muslim, seperti  yang  terjadi pada  perang Badar  kedua. Kondisi  semacam  ini memungkinkan kaum Muslim bisa mewujudkan kehidupan yang tentram di Madinah dan mengatur kehidupan mereka dalam naungan cahaya baru  yang ada  bagi  kaum Muhajirin,    setelah mereka memperoleh ghanimah Bani Nadhir dan mendistribusikan tanah, kebun kurma, rumah-rumah, termasuk berbagai perkakas kepada mereka. Meskipun demikian, mereka tidak condong pada kehidupan dunia, yang bisa memalingkannya dari keberlangsungan jihad, karena jihad wajib hingga hari Kiamat. Hal itu hanya menjadikan  kondisi  kehidupan mereka  lebih baik, mantap, dan aman dibandingkan sebelumnya. Rasul saw sendiri berada dalam ketentraman dan tetap waspada terhadap tipudaya musuh. Beliau terus-menerus menyebarkan mata-mata dan tim pengintai beliau ke seluruh penjuru  jazirah Arab. Mereka  selalu mengirimkan berbagai  informasi kepada  beliau mengenai  kondisi  bangsa Arab  dan  persekongkolan mereka,  sehingga ada  kesempatan bagi beliau untuk mempersiapkan diri mengahadapi musuh. Dengan begitu beliau mengetahui betul rencana dan  berbagai uslubnya, serta persiapan untuk menghadapinya. Terutama karena musuh-musuh kaum Muslim semakin banyak di jazirah, setelah beliau memiliki kekuasaan yang menggentarkan seluruh bangsa Arab. Juga setelah berhasil mengusir Yahudi Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir dari Madinah, serta setelah berhasil memukul mundur kabilah-kabilah Arab, seperti Bani Ghathfan, Hudzail dan yang lainnya dengan pukulan yang mematikan.

Karena  itu,  Rasul  saw  senantiasa waspada  dengan  cara mencermati  informasi mengenai bangsa Arab  hingga  sampai  kabar kepada beliau tentang kafir Quraisy dan sebagian kabilah yang bersekutu untuk menyerang  kota Madinah. Beliau  segera menyiapkan pasukan untuk menyongsong mereka. Sebab,  setelah Bani Nadhir  diusir oleh Rasulullah dari  kota Madinah, menyeruak dalam  jiwa mereka pikiran busuk untuk membangkitkan perselisihan bangsa Arab kepada Rasul saw, sehingga mereka memberontak kepadanya.

Untuk melaksanakan rencananya tersebut, beberapa orang Yahudi Bani Nadhir keluar dari pengungsiannya untuk menemui kafir Quraisy Makkah. Mereka adalah Hayyi bin Akhthab, Salam bin Abi al-Haqiq, dan Kinanah bin Abi al-Haqiq. Turut bergabung pula beberapa orang dari Bani Wail Hawadzah bin Qayis dan Abu ‘Ammar. Penduduk Makkah bertanya  kepada Hayyi  tentang  kaumnya. Dia menjawab,  “Aku meninggalkan mereka di antara Khaibar dan Madinah. Mereka dalam keadaan kebingungan hingga kalian datang menemui mereka, lalu kalian berangkat  bersama mereka  untuk menghancurkan Muhammad  dan kawan-kawannya”.  Mereka  bertanya pula tentang Bani Quraizhah, lalu dia menjawab,  “Mereka masih  tinggal  di  kota Madinah  dan  tengah membuat makar  untuk menyerang Muhammad,  hingga  kalian mendatangi mereka, lalu mereka akan  bergabung dengan kalian”.

Orang-orang Quraisy ragu-ragu apakah harus menerima tawaran tersebut  kemudian maju menyerang ataukah menolak. Sebab, antara mereka dan Muhammad  sebenarnya  tidak  ada  perselisihan  kecuali menyangkut  dakwah  yang menyerukan  kepada Allah. Bukan  tidak mungkin dialah yang berada dalam kebenaran? Karena  itu, kafir Quraisy bertanya kepada Yahudi: “Hai orang-orang Yahudi, kalian adalah Ahlu Kitab  yang pertama dan mengetahui persoalan  yang membuat  kami berselisih dengan Muhammad. Apakah agama kami ataukah agamanya yang lebih baik?”

Orang-orang Yahudi itu menjawab:”Tentu agama kalian lebih baik daripada agamanya, dan kalian lebih berhak atas kebenaran itu.”

Padahal  Yahudi  yang  beragama  tauhid  itu,  sebenarnya mengetahui bahwa agama Muhammad adalah benar. Akan  tetapi, karena keinginan mereka yang kuat untuk membangkitkan kebencian orang Arab, menjadikan mereka membiarkan diri dalam kesalahan yang menjijikan tersebut.  Ini adalah  noda  yang bersifat abadi. Mereka meneriakkan kebohongan dengan mengatakan bahwa menyembah berhala jauh lebih baik daripada tauhid. Mereka tetap melakukannya dan akan melakukan hal lainnya yang serupa. Setelah puas meyakinkan kafir Quraisy dengan pendapat mereka,  kaum Yahudi pergi  ke Ghathfan dari  kabilah Qais ‘Ailan, ke Bani Murrah, Bani Fuzarah, Bani Asyja’, Bani Salim, Bani Sa’ad, Bani Asad,  dan  kepada  siapa  saja  yang menyimpan  rasa  dendam terhadap  kaum  Musl im.  Kaum  Yahudi  itu  tak  henti-hentinya membangkitkan kebencian kabilah-kabilah tersebut dan mengingatkan mereka  tentang keikutsertaan kafir Quraisy dalam memberi dukungan untuk memerangi Muhammad. Mereka memuji  dan menyanjung-nyanjung  orang-orang Arab  tersebut  serta menjanjikan  pertolongan terhadap mereka.

Demikianlah  yang mereka  lakukan,  hingga akhirnya mereka berhasil menghimpun suku-suku Arab untuk memerangi Rasul. Kabilah-kabilah Arab kemudian berkumpul dan keluar bersama-sama kafir Quraisy mendatangi Madinah.

Kaum Quraisy keluar di bawah pimpinan Abu Sufyan dengan 4.000 pasukan, 300 pasukan berkuda dan 1.500 pasukan penunggang unta. Bani Ghathfan keluar di bawah pimpinan ‘Uyainah ibnu Hashan bin Hudzaifah beserta rombongan dalam jumlah yang banyak dan 1.000 orang pasukan penunggang unta. Bani Asyja’ keluar dengan 400 orang pasukan di bawah pimpinan Mas’ar bin Rakhilah. Bani Murrah keluar juga dengan 400 pasukan di bawah kendali al-Harits bin ‘Auf. Salim dan penduduk Bi’ru Ma’unah datang dengan membawa 700 orang pasukan. Mereka berkumpul  dan bergabung pula Bani Sa’ad  dan Bani Asad sehingga  keseluruhannya berjumlah  sekitar 10.000 orang. Semuanya bergerak menuju kota Madinah di bawah komando Abu Sufyan.

Ketika  berita  keberangkatan  pasukan  gabungan musuh  yang sangat  besar  ini  sampai  kepada Rasul  saw, beliau  segera mengambil keputusan untuk membentengi Madinah. Salman al-Farisi mengusulkan untuk menggali parit di sekeliling Madinah, dan membuat benteng di sisi dalamnya. Kemudian parit itu pun digali dan Nabi saw sendiri juga ikut serta menggalinya. Beliau menggali  tanah  sambil memberi  semangat kepada  kaum Muslim  dan mengajak mereka agar melipatgandakan kesungguhannya. Pembuatan parit akhirnya rampung dalam enam hari. Tembok-tembok rumah yang menghadap langsung ke arah musuh dijaga. Rumah-rumah hunian yang berada di belakang parit dikosongkan. Kaum wanita dan anak-anak dibawa dan dikumpulkan dalam rumah-rumah yang dijaga. Rasul saw kemudian keluar bersama 3.000 orang pasukan. Kemudian  beliau menjadikan punggungnya mengarah  ke  anak bukit sementara  parit dijadikan batas pemisah antara dirinya dan pasukan musuh. Di sanalah ditempatkan pasukannya, lalu didirikan kemah-kemah dengan warna merah.

Kafir Quraisy dan pasukan gabungannya (Ahzab) pun tiba. Mereka sangat  berharap  bertemu Muhammad di  bukit Uhud, namun  tidak menemukannya. Pasukan musuh terus bergerak ke arah kota Madinah. Namun, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh adanya parit yang melingkar menghadang. Mereka bingung,  karena  belum pernah mengenal  jenis pertahanan  semacam  ini.  Lalu, Quraisy  dan pasukan  gabungan  itu membangun perkemahan di luar Madinah jauh di belakang parit. Abu Sufyan dan orang-orang  yang menyertainya meyakini bahwa mereka akan lama tinggal di depan parit tanpa bisa melakukan apa-apa, apalagi mencebur ke dalam parit. Waktu itu adalah musim dingin di mana angin bertiup kencang dan hawa dingin sangat membekukan. Lambat  laun, kelemahan merayapi mereka dan menganggap lebih baik pulang kembali melalui jalur semula.

Hayyi bin Akhthab selalu memperhatikan perkembangan pasukan gabungan yang direkayasanya. Dia berbicara kepada mereka bahwa dia akan meyakinkan Bani Quraizhah untuk membatalkan perjanjian yang telah mereka buat dengan Muhammad  dan  kaum Muslim  sekaligus mengajak mereka bergabung dengan pasukan gabungan kafir Quraisy. Jika Quraizhah mau melakukannya, maka bantuan kaum Muslim terputus dan jalan memasuki kota Madinah terbuka lebar.

Kafir Quraisy  dan Bani Ghathfan  amat  gembira mendengar rencana  itu. Hayyi bin Akhtab segera pergi menemui Ka’ab bin Asad, pemimpin Bani Quraizhah. Ketika Ka’ab menyadari maksud Hayyi, maka Ka’ab  segera menutup pintu bentengnya  tanpa mengajak dia masuk. Sementara itu, Hayyi terus berdiri di depan pintu hingga pintu benteng tersebut terbuka lagi dan serta merta dia berkata: “Celaka engkau, hai Ka’ab! Aku  datang  kepadamu dengan  kemenangan  abadi  dan  lautan kekayaan yang melimpah. Aku datang kepadamu beserta kaum Quraisy di  bawah  komando  dan  kepimimpinan mereka.  Juga  aku  datang kepadamu  beserta  Bani   Ghathfan  di   bawah  komando  dan kepemimpinannya. Mereka membuat  perjanjian  dan  kesepakatan kepadaku  untuk  tidak meninggalkan medan  perang  hingga mereka berhasil mencabut Muhammad dan orang-orangnya dari akar-akarnya.”

Ka’ab  bimbang,  karena   dia  ingat  kejujuran dan  konsistensi Muhammad dalam memenuhi janji dan merasa khawatir dengan akibat ajakan Hayyi. Akan  tetapi, Hayyi  tidak putus asa dan  terus-menerus mengingatkan  kepadanya berbagai penderitaan  yang menimpa  kaum Yahudi akibat  ulah Muhammad.  Juga menggambarkan  kepadanya tentang kekuatan pasukan Ahzab, hingga akhirnya Ka’ab pun menerima ajakan Hayyi dan membatalkan perjanjiannya dengan Muhammad dan kaum Muslim. Dengan demikian Bani Quraizhah telah bergabung dengan pasukan Ahzab, tanpa memberitahukannya lebih dulu kepada Rasul saw.

Peristiwa  tersebut akhirnya sampai juga kepada Rasul saw dan para sahabatnya. Mereka mengalami kegoncangan dan khawatir terhadap akibat tipu daya tersebut. Rasul saw segera mengutus Sa’ad bin Mu’adz (pemimpin Aus) dan Sa’ad bin ‘Ubadah (pemimpin Khazraj) yang disertai oleh  ‘Abdullah  bin Rawahah  dan Khuwat  bin  Jabir  untuk mencari kejelasan berita tersebut. Beliau berpesan kepada mereka jika benar Bani Quraizhah merusak perjanjiannya, hendaknya mereka merahasiakannya, sehingga kejadian itu tidak sempat memecah-belah masyarakat. Mereka cukup memberitahukan hal tersebut kepada beliau dengan isyarat dan surat. Ketika para utusan ini datang, mereka berusaha membujuk Bani
Quraizhah  dengan mengatakan  bahwa  apa  yang mereka  lakukan merupakan  perbuatan  pal ing  kotor.  Ketika  mereka  berusaha mengembalikan Bani Quraizhah pada perjanjian  semula, Ka’ab  justru menuntut mereka agar mengembalikan  kawan-kawan mereka Yahudi Bani Nadhir ke perkampungan mereka semula. Sementara itu Sa’ad bin Mu’adz,  yang  sebelumnya adalah  sekutu Bani Quraizhah, berusaha meyakinkan mereka untuk tetap berada di pihak Muhammad saw. Ka’ab
berkata:”Siapakah Rasuullah itu? Tidak ada perjanjian dan kesepakatan antara kami dengan Muhammad!” .

Utusan  ini kembali dan mengabarkan kepada Rasul mengenai apa  yang mereka  lihat.  Kekhawatiran  di  kalangan  kaum Muslim meningkat. Sementara itu pasukan Ahzab mempersiapkan dirinya untuk berperang. Adapun Bani Quraizhah meminta  tenggat waktu  kepada
pasukan Ahzab selama 10 hari guna menyiapkan pasukannya, sehingga pasukan Ahzab dapat memerangi kaum Muslim pada hari yang kesepuluh dengan  dahsyat.  Itulah  yang mereka  lakukan,  yaitu membentuk  tiga kesatuan  tempur untuk memerangi Nabi. Kesatuan tempur Ibnu al-A’war al-Sulamiy akan menyerang dari arah atas lembah dan kesatuan tempur ‘Uyayinah bin Hashan akan menyerang dari arah samping. Sedangkan Abu Sufyan akan menyerang dari arah parit. Kegoncangan  yang  luar biasa benar-benar menyelimuti kaum Muslim, pandangan mata menjadi kabur dan jantung mereka berdebar keras sangat ketakutan. Sementara di pihak  lain,  dukungan  terhadap  pasukan  gabungan  semakin  kuat. Kekuatan mereka sangat solid. Jiwa mereka terangkat penuh optimisme. Tidak  lama kemudian, mereka segera menghambur dan mencebur ke dalam parit. Sebagian pasukan penunggang kuda kafir Quraisy terpacu untuk segera menyerang, di antara mereka adalah ‘Amru bin ‘Abdu Wuda, ‘Ikrimah bin Abu Jahal dan Dharar bin al-Khaththab. Mereka melihat adanya satu celah sempit yang ada antara bukit dan parit, lalu mereka gunakan untuk melintas dan memecah pertahanan kaum Muslim.  ‘Ali bin Abi Thalib ra yang melihat hal itu segera keluar dalam sekelompok kecil kaum Muslim. Mereka memang mengambil celah yang dijadikan tempat untuk menerjunkan  kuda-kuda mereka. Kemudian  ‘Amru  bin ‘Abdu Wuda maju  seraya berteriak-teriak menantang duel. Ketika  ‘Ali bin Abi Thalib menyambut ajakan duelnya dan  turun  ke gelanggang, ‘Amru  bin  ‘Abdu Wuda  tertawa mengejek:  “Wahai  anak  saudaraku, mengapa  harus  kamu  yang  turun?! Demi  Allah,  aku  tidak  ingin membunuhmu!”. Ali ra. membalas keras: “Tetapi, demi Allah, aku sangat
ingin membunuhmu.

Keduanya  lalu menghunus pedang dan bertarung.  ‘Ali berhasil
membunuhnya. Akibatnya kuda-kuda pasukan Ahzab lari terpukul hingga tercebur ke dalam parit, kemudian mundur ke induk pasukan. Namun, kejadian itu tidak melemahkan jiwa pasukan Ahzab. Bahkan api semangat penyerangannya semakin berkobar hingga menggetarkan kaum Muslim.
Pasukan bantuan dari Bani Quraizhah mulai marah. Mereka keluar dari benteng-benteng mereka dan  turun  ke  pemukiman-pemukiman  kota Madinah  di  daerah  yang  dekat  dengan mereka  untuk meneror penduduknya. Keadaan  semakin mencekam,  kekhawatiran  semakin memuncak dan kegoncangan semakin meluas. Rasul saw justru semakin percaya dengan pertolongan Allah kepadanya. Di tengah suasana tersebut tiba-tiba Nu’aim bin Mas’ud yang baru masuk Islam, datang kepada Rasul saw untuk melemahkan semangat kaum kafir.

Nu’aim berangkat atas perintah Rasul menjumpai Bani Quraizhah. Mereka belum mengetahui bahwa Nu’aim sebenarnya sudah memeluk Islam. Mereka hanya mengenal bahwa Nu’aim adalah teman lama mereka di masa jahiliah. Nu’aim mengingatkan mereka tentang hubungan kasih sayang  yang  sudah  lama  terjalin di  antara  dirinya  dengan mereka. Kemudian dia  juga mengingatkan mereka, mengapa harus membantu kafir Quraisy  dan Ghathfan  untuk menyerang Muhammad.  Sangat mungkin  sekali Quraisy  dan Ghathfan  tidak akan  lama menduduki posisinya dan mereka akan segera pergi pulang. Mereka hanya membuat mimpi  tentang  bencana  yang  akan menimpa Muhammad. Padahal mereka  justru mengkhayalkan  bencana  yang  akan menimpa mereka sendiri. Nu’aim  juga menasihati agar mereka  tidak  ikut memerangi Muhammad bersama kaum Quraisy. Mereka telah memperoleh jaminan dengan apa saja yang dimiliki mereka dan tidak membantu kaum Quraisy dan Ghathfan. Bani Quraizhah akhirnya puas dan merasa yakin dengan apa yang dikatakan oleh Nu’aim.

Setelah  itu  Nu’aim  pergi  kepada  kaum  Quraisy.  Dia memberitahukan kepada mereka secara rahasia bahwa Bani Quraizhah menyesali perbuatan mereka yang telah melanggar perjanjiannya dengan Muhammad. Mereka  akan melakukan  apapun  demi  keridlaan Muhammad  dan memperoleh  kasih  sayangnya  dengan  cara  lebih mengutamakan  beliau  daripada  tokoh-tokoh Quraisy  yang  akan memenggal  leher mereka. Karena  itu, dia menasihati mereka  bahwa orang-orang  Yahudi  telah mengutusnya  kepada mereka  untuk memperoleh  jaminan dari pemuka Quraisy supaya tidak mengirimkan utusan seorangpun. Hal yang sama Nu’aim lakukan terhadap Ghathfan, sebagaimana yang telah dilakukannya kepada kaum Quraisy. Keraguan merayap dalam jiwa orang-orang Arab dari kalangan Yahudi. Akhirnya Abu Sufyan mengirimkan surat kepada Ka’ab dan mengabarkan: “Sudah lama kami melakukan pendudukan dan pengepungan kepada laki-laki ini  (Muhammad). Aku melihat  kalian bersandar  kepadanya di waktu besok,  sementara  kami berada di belakang  kalian.” Ka’ab menjawab, “Besok hari Sabtu dan kami tidak dapat berperang maupun melakukan pekerjaan di hari Sabtu.”

Abu Sufyan marah dan membenarkan cerita Nu’aim. Kemudian dia meminta  kembali  utusan  itu  untuk menemui Quraizhah  dan mengatakan kepada mereka, “Jadikanlah oleh kalian suatu hari Sabtu lain  untuk menggantikan  hari Sabtu  ini,  karena Sabtu  besok  harus memerangi Muhammad.  Jika  kami  keluar untuk memeranginya dan kalian tidak bersama kami, maka kami melepaskan diri dari persekutuan kalian. Dan kami akan memerangi kalian dahulu sebelum Muhammad.”

Mendengar ucapan Abu Sufyan semacam ini, Quraizhah kembali menegaskan tekadnya bahwa mereka tidak bisa melanggar hari Sabtu. Kemudian mereka memberi  isyarat adanya  jaminan,  sehingga merasa tenang dengan kepastian tempat kembali mereka. Mendengar jawaban demikian, Abu  Sufyan  tidak  ragu-ragu  lagi  dengan  cerita Nu’aim. Malamnya dia berpikir apa yang harus dilakukan. Abu Sufyan akhirnya memutuskan harus berbicara pada Ghathfan. Namun, dia mendapati bahwa Ghathfan  juga  ragu-ragu untuk maju memerangi Muhammad. Pada  tengah malamnya,  tiba-tiba Allah mengirimkan  kepada mereka angin topan bercampur petir disertai hujan yang sangat lebat. Kemah-kemah mereka porak  poranda. Periuk  dan perkakas  dapur  terbalik tumpang tindih. Ketakutan merasuki jiwa mereka. Dalam pikiran mereka terbayang bahwa kaum Muslim pasti segera mengambil kesempatan ini untuk menyeberangi parit lalu menyerang mereka. Thalihah berdiri dan berteriak lantang, “Muhammad telah memulai menyerang kalian dengan keras! Karena itu, selamatkanlah diri kalian!” Abu Sufyan pun tidak mau
diam. Dia  segera memberi  komando pasukannya,  “Hai orang-orang Quraisy,  kembalilah! Sesungguhnya  aku  juga  segera  kembali.” Kaum Quraisy  segera  pergi  dengan  rasa  ringan. Kemudian Ghathfan dan pasukan Ahzab menyusul pulang. Pagi harinya tidak satupun dari mereka yang  tersisa. Ketika Rasul  saw melihat  keadaan  ini, beliau dan  kaum Muslim  segera kembali ke kota Madinah. Allah  telah memenuhi  janji-Nya  kepada  orang-orang  yang  beriman  untuk memenangkan peperangan.

Rasul saw memperoleh keleluasaan dari ancaman serangan kafir Quraisy dan Allah  telah memberikan  kemenangan  kepadanya dalam pertempuran. Kemudian beliau memandang harus segera menghentikan sepak  terjang Bani Quraizhah. Mereka  telah membatalkan perjanjian dengan beliau dan bersekongkol untuk memerangi kaum Muslim. Karena itu, beliau saw memerintahkan seorang muadzin untuk menyampaikan pesan beliau kepada masyarakat: “Siapa saja yang mendengar dan taat, maka janganlah mereka shalat ‘Asar kecuali telah tiba di Bani Quraizhah.” Dengan mengangkat bendera,  ‘Ali segera berangkat untuk menyerang Bani Quraizhah. Pasukan  yang   menyertai  ‘Ali  ra merasa  ringan dan dalam  keadaan  riang  gembira. Mereka  terus bergerak hingga  tiba  di daerah Bani Quraizhah, lalu mengepung mereka dengan rapat selama 25 malam berturut-turut. Yahudi Quraizhah mengirimkan utusan kepada Rasul  saw,  lalu  berunding  dengan  bel iau.  Setelah  itu mereka melaksanakan keputusan Sa’ad bin Mu’adz yang menetapkan hukuman agar mereka membunuh musuh  yang memerangi  kaum Muslim, membagi-bagikan kekayaan mereka serta menjadikan para wanita dan
anak-anak sebagai tawanan. Keputusan ini dapat dilaksanakan sempurna dan dengan demikian penyelesaian untuk masalah kabilah tersebut telah dilakukan. Sehingga Madinah bersih darinya.

Dengan hancurnya tentara Ahzab, maka berakhir sudah upaya perlawanan baru yang terakhir dari kafir Quraisy untuk menghadapi dan memerangi Rasul  saw. Dengan menghukum Bani Quraizhah,  beliau berhasil membersihkan  tiga  kabilah Yahudi  yang bercokol  di  sekitar
Madinah, di mana mereka telah mengikat perjanjian dengan Nabi lalu merusaknya. Dengan demikian, kedudukan Rasul saw dan kaum Muslim di Madinah dan sekitarnya menjadi stabil. Hal itu menyebabkan bangsa Arab takut dan gentar kepada kaum Muslim tetangga mereka.(dari kitab: Daulah Islam, Taqiyuddin An-Nabhani; Penerjemah, Umar Faruq)
.........Lihat Selengkapnya

gravatar

PERANG BADAR

Pada 8 Ramadhan tahun kedua Hijriyah, Nabi saw bersama para sahabatnya keluar dari Madinah. Beliau menugaskan ‘Amru bin Ummi Maktum untuk mengimami shalat bersama masyarakat dan Abu  Lubabah menjadi  penguasa Madinah.  Rombongan  tersebut berjumlah  305  orang, ditambah 70  orang  berkendaraan  unta  yang ditunggangi  secara  bergiliran.  Setiap  dua,  tiga,  dan  empat  orang menunggangi seekor unta secara bergiliran.

Mereka berangkat dengan  target operasi  kafilah Abu Sufyan. Mereka terus berjalan sambil menyelidiki berbagai berita tentang kafilah tersebut,  hingga  tiba di  suatu  lembah  yang dinamakan Dzafiran,  lalu mereka berhenti di sana. Di tempat tersebut diperoleh kabar bahwa kafir Quraisy telah berangkat keluar dari kota Makkah untuk melindungi unta-unta mereka. Saat itu bentuk permasalahannya mengalami perubahan, yaitu  apakah  akan  terus menghadapi  kafir Quraisy,  atau  tidak.Persoalannya  tidak  lagi  tentang  kafilah Abu Sufyan. Kemudian Rasul saw bermusyawarah dengan kaum Muslim dan menyampaikan kepada mereka informasi yang sampai kepada beliau tetang Quraisy. Abu Bakar dan Umar mengajukan pendapatnya. Kemudian Miqdad  bin  ‘Amru berkata,  “Wahai  Rasulullah  laksanakanlah  apa  yang  telah  Allah perintahkan kepada anda. Kami semua menyertai anda dan demi Allah,kami tidak akan mengatakan kepada anda seperti yang pernah dikatakan oleh Bani  Israil  kepada Musa:  ‘Pergilah  kamu  dengan Tuhanmu dan berperanglah kalian berdua, sementara itu kami di sini saja sambil duduk-duduk’. Akan tetapi kami akan mengatakan kepada anda: ‘Pergilah anda bersama Tuhan anda dan berperanglah kalian berdua dan kami bersama kalian berdua ikut berperang.’ Demi Dzat Yang mengutus anda dengan benar, seandainya anda mengajak kami berjalan melintasi lembah-lembah berair, pasti kami menyertai anda hingga sampai di tujuan.” Kaum Muslimin pun  terdiam,  lalu Rasul saw bersabda, “Wahai manusia, bantulah diriku!” Ucapan tersebut sebenarnya ditujukan kepada kaum Anshar, yang  telah memberikan bai’at kepada beliau pada hari Aqabah. Mereka  telah berjanji akan melindungi Rasul saw dari segala hal (yang membahayakannya), sebagaimana mereka melindungi anak-anak  dan  istri-istri mereka.  Beliau  khawatir  kaum  Anshar  tidak memandang perlu untuk menolong dirinya, kecuali bila gangguan dari musuh beliau tersebut terjadi di Madinah. Ketika kaum Anshar menyadari bahwa yang beliau maksud adalah diri mereka, maka Sa’ad bin Mu’adz yang  pemegang  panji Anshar menoleh  kepada Rasulullah  saw dan berkata, “Demi Allah, seakan-akan yang anda maksud adalah kami, wahai Rasulullah!”. Rasul menjawab: “Tentu saja”.

Sa’ad  berkata  lagi:  “Kami  sungguh-sungguh mengimani  dan membenarkanmu. Kami bersaksi bahwa  apa  yang  engkau  datangkan adalah benar. Atas dasar itu, kami memberikan kepada engkau janji dan kebulatan  tekad untuk selalu mendengar dan menaati engkau. Karena
itu, lakukanlah wahai Rasulullah apa yang engkau inginkan, maka kami tetap bersama engkau. Demi Dzat Yang mengutus engkau, seandainya engkau mengajak kami menyeberangi lautan  ini, lalu engkau  terjun ke dalamnya, pasti kami  turut  terjun bersama engkau. Tidak seorang pun
dari kami yang akan berbalik dan kami tidak benci jika besok hari engkau mempertemukan kami dengan musuh kami. Sesungguhnya kami pasti sabar  dalam  peperangan,  benar  dalam  pertemuan.  Semoga Allah memperlihatkan kepadamu sesuatu dari kami yang dapat menenangkan
matamu. Berjalanlah  bersama  kami  dengan  naungan berkah Allah.” Belum lagi Sa’ad selesai menyempurnakan ucapannya, tiba-tiba wajah Beliau saw yang mulia memancarkan cahaya kebahagiaan dan bersabda: “Berjalanlah  kalian  dan  bergembiralah,  karena  Allah  Swt  telah menjanjikan  kepadaku  salah  satu  dari  dua  kelompok. Demi Allah, sekarang seakan-akan aku melihat para kesatria.”

Pasukan  pun  berangkat  bersama-sama  hingga  saat mereka mendekati Badar, mereka mengetahui bahwa pasukan kafir Quraisy telah dekat dengan mereka. Rasul mengutus Ali bin Abi Thalib, Zubair bin ‘Awwam, dan Sa’ad bin Abi Waqash dalam satu rombongan kecil sahabat menuju mata  air  yang ada di Badar  guna mencari  informasi  tentang pasukan musuh. Mereka  kembali  bersama dua orang pemuda. Dari informasi keduanya diketahui bahwa jumlah pasukan kafir Quraisy antara 700  hingga  1.000  orang.  Semua  pembesar Quraisy  keluar  untuk memerangi  beliau. Dengan  demikian  beliau mengetahui  bahwa  di hadapannya ada sekelompok pasukan yang berjumlah tiga kali lipat dari pasukannya. Beliau pun menunggu peperangan yang dahsyat di tempat yang akan menjadi medan pertumpahan darah. Beliau memberitahukan kaum Muslim bahwa Makkah telah memberikan sepotong hatinya kepada mereka. Mereka harus membulatkan tekad untuk menghadapi keadaan yang gawat. Kaum Muslim pun sepakat untuk memantapkan diri mereka dalam menghadapi musuh. Mereka berhasil menguasai mata air di Badar dan membangun  tempat  penampungan  air  serta mengisinya  hingga penuh. Sementara sumur-sumur di belakangnya dibiarkan tidak terpakai agar mereka  dapat minum,  sementara musuh mereka  tidak  dapat melakukannya. Kaum Muslim membangun pos komando untuk Rasul saw, agar beliau bisa tinggal di dalamnya untuk memberi komando kepada
pasukan. Adapun  kaum Quraisy menduduki beberapa  tempat-tempat pertempuran dan siap menghadapi kaum Muslim.

Perang  dimulai  dengan  duel. Aswad  bin  ‘Abdul Al-Asad Al- Makhzumiy dari barisan kafir Quraisy maju ke arah barisan kaum Muslim untuk menghancurkan tempat penampungan air yang telah dibangun. Seketika itu juga Hamzah bin ‘Abdul Muthalib menghadangnya dengan
pukulan  yang  keras  sehingga orang  itu  jatuh  terhempas dengan  kaki berlumuran darah. Kemudian Hamzah memburunya dengan pukulan lain sehingga dia tercebur tewas dalam tempat penampungan air tersebut. Kemudian ‘Uthbah bin Rabi’ah keluar diapit oleh saudaranya, Syaibah, dan anaknya, al-Walid. Hamzah bin Abdul Muthalib, ‘Ali bin Abi Thalib dan  ‘Ubaidah bin Harits  keluar menyongsong mereka. Hamzah  tidak membiarkan Syaibah lolos dan ‘Ali mendapat giliran menghadapi Walid. Tidak berapa lama, kedua orang sahabat ini berhasil membunuh kedua musuhnya. Lalu keduanya segera menghampiri dan membantu Ubaidah
yang nyaris terbunuh di tangan ‘Uthbah.

Untuk  sejenak kedua belah pihak menghentikan pertempuran, lalu bertempur kembali pada Jumat pagi  tanggal 17 Ramadhan tahun ke-2 Hijriyah. Rasul berdiri memimpin  pasukan  kaum Muslim  untuk membenahi  barisan mereka  dan menggiringnya  untuk  berperang. Kekuatan kaum Muslim semakin bertambah dengan seruan-seruan jihad Rasul saw kepada mereka. Apalagi beliau sendiri berada di tengah-tengah mereka. Kaum Muslim semakin mengganas dan mengobarkan perang dengan  gemuruh. Udara memanas  dan  peperangan menjadi  lebih dahsyat. Keadaan tersebut menjadikan para pemuka kafir Quraisy harus mempertahankan keselamatan dirinya masing-masinng. Sementara kaum Muslim  semakin bertambah  kekuatan  iman mereka dan meneriakkan kata-kata ahad  ... ahad. Rasul  selalu berada di  tengah-tengah mereka dan sesekali mengambil segenggam pasir lalu melemparkannya ke arah kafir Quraisy  seraya mengucapkan,  “Terhinalah wajah-wajahnya!”

Sementara kepada para sahabatnya beliau mengucapkan, “Bertahanlah kalian!” Semangat kaum Muslim makin berkobar sehingga pertempuran bergeser memihak  kaum Muslim. Kafir Quraisy  sendiri  lari  tunggang langgang, sebagian ada yang terbunuh dan sebagaian lagi tertawan. Hal tersebut menjadi kemenangan yang memperkokoh kaum Muslim. Mereka lalu pulang  ke Madinah dengan membawa  kekuatan  yang  semakin bertambah.(dari kitab: Daulah Islam, Taqiyuddin An-Nabhani; Penerjemah, Umar Faruq)
.........Lihat Selengkapnya

Followers